Rabu, 07 Januari 2009

JELANG PEMILU (2)


Lagi-lagi tulisan ini sudah aku buat hampir 4 (empat) tahun yang lalu....

Monggo dicermati....


  1. Menyongsong PILKADA cukup heboh juga ya? Cuma yang saya juga cukup berkesan adalah bahwa ternyata untuk menjadi seorang KADA harus siap PINTAR BERDIPLOMASI..

Coba amati salah satu IKLAN LAYANAN MASYARAKAT yang disiarkan diradio dan televisi kadang ada kata-kata :

”…….. Saya pasti akan memanfaatkan media ini dan media lainnya untuk berkomunikasi dengan masyarakat KALAU WAKTU MEMUNGKINKAN”

Tentunya jika waktu tidak memungkinkan (karena super sibuk ) notabene ya tidak bisa berkomunikasi dengan masyarakat……….????

  1. Beberapa waktu lalu BANTUAN TSUNAMI ACEH DAN SUMUT mayoritas datangnya dari Negara Negara maju. Antusiaisme masyarakat dari penjuru dunia tersebut banyak dipertanyakan :

“Kenapa ya kok kalau lagi kesusahan seperti ini, banyak manusia yang menjadi baik dan

mau menolong? Sedang waktu-waktu normal seolah-olah bermusuhan atau ingin

menang-menangan?”

Pepatah lama mengatakan TEMAN SEJATI ADALAH YANG MENOLONG KITA

SAAT KITA SEDANG KESUSAHAN. (tentunya tanpa pamrih atau maksud-maksud untuk keuntungan diri sendiri kelompok atau golongan).

Jika mengacu pada pepatah tadi berarti, orang-orang yang menolong tanpa pamrih tersebut adalah justru TEMAN SEJATI?

Karena ada Kata Bijak Lainnya yang berarti sebaliknya dari pepatah terdahulu :

JANGANLAH KAMU MENYAPA TERLEBIH DULU PADA TEMANMU YANG SEDANG BERJAYA SEBELUM DIA MENYAPAMU TERLEBIH DAHULU. Artinya, umumnya seseorang yang lagi berjaya, dia sering sombong dan lupa pada bahkan kadang sobatnya sendiri. Untuk mengantisipasi agar kita tidak SAKIT HATI maka kata bijak tadi sangatlah tepat kita terapkan.

Berlaku nggak ya pada KADA yang kita pilih nanti? Karena umumnya saat kampanye calon KADA atau calon Legeslatif , akan SEKUAT TENAGA merangkul masyarakat untuk memilihnya. Tapi disaat mereka TERPILIH, mereka BUKANnya merasa AMANAH tetapi lebih merasa BERJAYA......

Nah saat merasa BERJAYA inilah mereka menjadi SUSAH DISAPA atau DIJANGKAU.......

Memang tidak semua........

Berikut tulisan saya yang tidak terasa sudah 4 (empat) tahun yang lalu.......

Beberapa sudah terlihat adanya sedikit "RESPONS" (kalau boleh GE ER), tapi belum menyeluruh.....

PILKADAL JANGAN NGADALI MASYARAKAT

Istilah yang secara tidak langsung mengandung kata KADAL mungkin memang sudah suratan.. Bisa jadi istilah tadi tepat juga sebagai peringatan bagi semua pihak yang terlibat didalam kepengurusan Pilkadal dan calon KADA nya sendiri agar tidak berusaha atau melakukan tindakan NGADALI masyarakat..

Didalam istilah Jawa Ngadali berarti ngapusi, mencederai atau mengingkari janji-janji yang sudah diucapkannya. Umumnya janji-janji yang disampaikan tersebut sifatnya hal-hal yang muluk-muluk atau kalau istilah Jawanya disebut NGGEDABRUS.. Kasihan masyarakat sekarang. Khususnya kaum miskin papa. Mereka sudah lama menderita. Penderitaan ini kalau dirunut tidak lain juga hasil, akibat, efek, atau produk dari DIKADALI.

Urutannya adalah : Pemerintah atau Oknum Pejabat Tinggi dirayu, dibutakan matanya dengan iming-iming “hadiah” material yang tidak “ternilai” harganya kembali lagi dari yang menamakan dirinya oknum Konglomerat. Oknum Konglomerat dengan dalih punya “USAHA” besar butuh modal, Modal akhirnya dapat dikeluarkan Pemerintah karena dipameri agunan yang “WAH” yang sebenanrnya juga NGADALI tadi (karena agunan yang dipamerkan sebenarnya fiktif semata) Selain itu, juga dijanjikan pembagian keuntungan antara oknum pejabat tinggi dengan oknum konglomerat dengan prosentase yang dirahasiakan (mereka saja yang tahu). Ibarat suami istri yang sedang berada dikamar yang tertutup. Hanya mereka sendiri yang tahu. Apa sedang bertengkar, bercinta, diam-diaman dan lain sebagainya

Lalu kejadian, modal dilarikan oleh oknum konglomerat dengan nilai trilyunan ke luar negeri. Oknum Pejabat yang sudah kadung dapat bagian blingsatan. Bingung nggak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Akhirnya mengarang scenario dengan berbagai dalih agar terbebas dari hukuman gantung. Personil Hukum yang bisa dimintai tolong membebaskan tuduhan di ajak kompromi untuk NGADALI semua pihak terkait,.

Dan akhirnya masyarakat pula yang menerima dampak Kadal Mengkadal ini. Sehingga negara ini, menjadi negara yang sangat miskin. Perekonomian sangat jauh dari merata. Banyak yang dapat mengenyam hidup kaya, pendidikan tinggi dan mewah, tetapi jauh LEBIH BANYAK pula yang hidup dalam kemiskinan.

Untuk itulah dalam lingkup perkotaan ini, janganlah praktek kadal mengkadal ini disuburkan. Buatlah janji-janji yang sesuai dengan kondisi yang ada. Tidak perlu muluk-muluk asal dapat diujudkan dan dirasakan nyata oleh rakyat atau masyarakatnya. Marilah masyarakat diajak ikut serta terlibat dalam menentukan nasib kota/kabupaten ini. Didiklah, agar bisa menghadapi realita yang ada. Jika memang miskin, ajaklah untuk berhemat, bersama-sama bekerja keras ikut meningkatkan perekonomian. Meningkatkan SDM nya. Jika memang kaya, ajaklah “berpesta” dan tetap menjaga kekayaan tersebut.. Jangan diKADALI dengan hal-hal yang JAUH DARI KENYATAAN . Sejauh itu dilakukan dengan adil, bergandengan tangan, bahu membahu (tidak terjadi kesenjangan social yang lebar), pasti rakyat akan dengan LEGOWO mau menerimanya.

Buatlah rencana dan aturan yang jelas yang masuk akal. Baik rencana jangka pendek maupun rencana jangka panjang. Koordinasi yang baik dengan semua pihak terkait, terintegrasi dengan baik antar satu bidang dengan bidang yang lainnya. Buatlah iklim yang sehat, sinergi yang baik antara pemerintah, masyarakat dan semua pihak terkait.

Jaga dan susun pula istilah-istilah , kata-kata. ucapan-ucapan atau janji-janji dari calon KADA yang digembar-gemborkan yang menurut penulis seringkali terdengar dan terasa “KONYOL”. Misalnya “Kalau saya terpilih jadi KADA nanti, kaum miskin akan saya bebaskan dari biaya pendidikan” Seharusnya dijelaskan lebih bijak. Kriteria miskin itu yang mana, yang dimaksud biaya pendidikan itu yang mana. Karena masyarakat sekarang banyak yang merasa diKADALI dengan janji-janji tersebut. Bebas biaya pendidikan ternyata hanya bebas dari SPP. Uang buku, uang saku, uang transportasi, uang bayar ekstrakurikuler, uang seragam, termasuk sepatu dan lain sebagainya (yang kalau ditotal akan jauh lebih besar dari SPP) masih harus dibayar sendiri. Ibarat jauh JUDUL dari ISI nya..

Saya menjadi ingat akan satu ceritera dari suami saya yang waktu itu kunjungan kerja ke Taiwan. Melihat Taiwan yang sekarang ini sudah maju dan nampak makmur. Suami saya bertanya pada salah satu pejabat Tinggi pemerintahan disitu. :Wah tentunya dengan kondisi negara anda yang makmur begini anda menerima gaji yang sangat tinggi ya?” Jawab Petinggi Taiwan tadi : “Tidak salah. Benar sekali.” “Tapi perlu dicatat. Saya menerima gaji tinggi pada saat negara saya perekonomiannya sudah bagus. Waktu perekonomian ini masih memprihatinkan, gaji sayapun juga menyesuaikan.”

Alangkah indahnya jika hal tersebut juga diterapkan di negeri ini, dikota/didaerah di Indonesia negeri tercinta ini. Bukan justru seperti oknum legislative yang hampir setiap hari menghiasi Koran-koran dan media lain untuk meminta kenaikan gaji yang tidak tanggung-tanggung besarnya, yang sangat tidak proporsional dengan kondisi kota/daerahnya

Surabaya, 04 April 2005

Uniek Wardhono

JELANG PEMILU

Uneg2 ini sebenarnya sudah aku tulis 5 (lima) tahun yang lalu... Waktu itu hanya aku berikan kepada orang-orang tertentu saja, dan pada beberpa personil disalah satu radio swasta yang aku anggap aspiratif, responnya cepat, dan mau menyalurkan GELEGAK UNEG-UNEG saya pada saluran yang PAS


Inilah uneg2 ku yang sekarang aku bagi pada para sahabat semua...


Luis Sullivan arsitek besar dari Chicago USA pernah mengatakan :

SETIAP SOAL ATAU PERMASALAHAN SUDAH MENGANDUNG DALAM DIRINYA SENDIRI PENYELESAIAN SOALNYA.

Setiap soal/permasalahan minta jawaban atau solusinya . Dan jawaban atau solusinya sebenarnya sudah tersedia (meski masih terselubung ) didalam soal/permasalahan itu sendiri.

Kesulitan kita biasanya adalah bahwa kita cenderung untuk lebih suka mendengarkan keinginan dan nafsu kita sendiri. Selubung itulah yang paling sulit kita kuak, kita buka dan kita “petani” untuk mendapatkan jawaban/solusinya.

Contoh yang pernah diberikan oleh alm Romo Dipl Ing YB Mangunwijaya. “empu”nya arsitektur Indonesia adalah :

Kita lebih senang menjiplak produk orang lain, tanpa bertanya dulu situasi kondisi yang ada. Lalu kita mulai mendikte harus begini harus begitu.. Terlalu malas bertanya pada alam sekeliling, kepada bahan yang ada potensi atau kemampuan yang mungkin. Misalnya kehidupan iklim panas lembab diberi jas setelan wool dengan dasi yang mencekik.

Bangunan yang serba rapat. Yang lebih mengandalkan Ac. Padahal masih dimungkinkan untuk memanfaakan factor alam, tapi karena kecenderungan menjiplak yang besar itulah yang seringkali mengalahkan segalanya.

Contoh yang sedang kita hadapi saat ini yang cukup menggelikan juga:

Prilaku dari para Partai dengan Program-programnya, khususnya kegiatan kampanye.

Kenapa baru sekarang mereka mencari tahu keinginan-keinginan masyarakat? (Seperti yang diungkapkan oleh seorang pengasuh salah satu program di radio swasta di Surabaya Kelana Kota pagi Senin 15 Maret 2004 bahwa ada partai yang bertanya tentang apa yang akan dilakukan dalam kampanye sekarang. )

Kan aneh. Wong radio tersebut sudah bertahun-tahun, berbulan-bulan, berhari-hari, berjam-jam bermenit-menit berdetik-detik senantiasa menyajikan bisikan, omelan, keluhan, teriakan dari masyarakat yang mayoritas cukup kritis. Belum lagi media lain. Seperti Koran, televisi daerah, maupun nasional. Kuping mereka, mata mereka para kontestan/caleg selama ini dikemanakan? Bagaimana mereka akan dapat menyerap aspirasi rakyat dan mencarikan solusinya? Wong masalahnya sendiri ndak tahu. Bagaimana nantinya mereka akan dapat mewakili bahkan memimpin negeri ini? Jangan menyepelekan masalah kecil. Masalah yang besar, mulainya juga dari masalah kecil.

Dan dengar-dengar lagi. Para rakyat kecil (tukang becak) dieksploitasi? Dijadikan komoditi? (sekali lagi istilah tepatnya kurang tahu). Mereka para rakyat kecil dijadikan kendaraan (bukan becaknya saja), tapi dimanfaatkan dengan memberikan iming2 (meski sifatnya sesaat), dan bukannya mendidik mereka untuk mulai bisa mengungkapkan hati nuraninya. Mereka mau kampanye bukan karena memang terpanggil karena hati nuraninya, tapi seolah-olah direnggut hati nuraninya, melalui kelemahan mereka, yakni “perut”

Padahal banyak sekali yang bisa kita jawab kalau kita tahu permasalahan yang ada.

Sebagai misal :

Sebelum kampanye buat planning yang tentunya konsepnya harus disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi masyarakat yang ada.

Sebaiknya biaya-biaya kampanye lebih diarahkan bukan untuk “foya2” sesaat, tapi untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfat.

Bukan Cuma untuk ’NAMPANG’ dengan POSTER FOTO2 BESAR dijalanan. Yang tidak tahu JUNTRUNGANnya dan apa mangsud dan tujuannya......Kok kayak IKLAN SABUN dan KECAP aja.... Mereka malah BERSAING dengan IKLAN PROVIDER2 GSM, BESAR2AN FOTO tapi TIDAK JELAS PROGRAM yang SUDAH, SEDANG dan akan dilakukan.........

Disamping buang-buang uang yang tidak bermanfaat, juga BIKIN SEPET MATA, MERUSAK LINGKUNGAN

Anehnya IDE2 yang TIDAK KREATIF ini kenapa justru BANYAK FOLLOWER alias pengikutnya ya? Contohnya PEMASANGAN BENDERA PARTAI dipohon-pohon tinggi dan besar. Selain MERUSAK PEMANDANGAN, bendera-bendera yang terbuat dari kain itu karena terkena panas dan hujan yang terus menerus akhirnya sobek dan lapuk, dan jadi sampah diatas pohon...........

Kenapa tidak membuat PROGRAM-PROGRAM yang JELAS ya...Seperti membuat poling, atau survey bisa tertulis, bisa wawancara atau membuat questionair untuk disebar luaskan ke masyarakat untuk menjaring PERMASALAHAN apa yang sedang dihadapi masyarakat. Dari lingkup kecil, hingga besar..

Toh alat komunikasi dan teknologi semakin canggih. Jadi masalah yang ada semakin dapat kita ketahui.

Nah dari hasil survey inilah (sekali lagi jauh-jauh hari sebelum kampanye) carilah solusinya untuk penyelesaiannya.

Kita berbuat, bisa melalui apa saja. Melalui masukan , baik itu tulisan, ucapan, dan langsung terjun dilapangan. Juga melalui konsep-konsep atau ide-ide.

Semoga tulisan ini akan memberikan manfaat.

Kalau sekarang dianggap terlambat, semoga apa yang saya ungkapkan melalui tulisan ini dapat dipergunakan waktu yad, atau dipergunakan untuk tahap-tahap selanjutnya.

Unik wardhono

Minggu, 28 Desember 2008