Jumat, 16 Januari 2009

REALITA KEHIDUPAN (PUISI)

REALITA KEHIDUPAN.

Hari Pertama kita lalui bak manisnya MADU……..

Pelan-pelan madu itu terasa berkurang manisnya.....

Pada hari ketujuh.... madu itu sudah berubah menjadi HAMBAR....

Mulailah ketidak samaan dari dua pribadi yang memang beda latar belakangnya itu muncul...

Bak kuntum bunga yang mulai merekah dan TERSIBAK........

Semua yang ada didalam bunga itu semakin TERKUAK...

Bintik-bintik serbuk-serbuk benang sari terburai berjatuhan....

Kegetiran semakin terasa ketidak samaan mulai terbiasa..........

MADU itu pun sudah jadi EMPEDU…….

Namun…… kita tidak pernah menyerah kalah….

Kita daki terus gunung tinggi ini bersama-sama.....

Ada onak ada duri, ada jalan berliku, ada ular berbisa...

Ada kijang yang cantik... ada buah-buahan yang ranum...

Ada jalan yang mulus tidak jarang kita temui jalan yang terjal..

Ada tupai ada bebatuan dan kerikil-kerikil tajam yang menghadang perjalanan kita.......

Kita coba tepis, kita coba singkirkan.... kita coba pungut... kita coba petik.....

Terus-terus kita lalui jalan-jalan itu…….

Tak kenal lelah tak kenal putus asa.........

Jika aku akan terperosok kejurang nan curam kau gapai tanganku untuk membantu kejalan yang benar

Jika kau terantuk batu dan akan terjatuh, aku tarik tanganmu sekuat tenagaku untuk dapat tegak kembali

27 tahun sudah………… kita lalui perjalanan itu…

Perjalanan yang sungguh Sangat MELELAHKAN sekaligus MENGASYIK kan…

Kadang ada CANDA ditengah perjalanan…

SERINGKALI JUSTRU diwarnai dengan keMURKAAN karena KESALAH PAHAMAN…..

Ya Allah dapatkah kami berdua MENYELESAIKAN perjalanan yang sudah kami NIATKAN DAKI BERSAMA ini?

.....................

..............................

..............................

Surabaya, 07 Oktober 2007

UW

Senin, 12 Januari 2009

KOMPREHENSIF

Itu yang selalu saya tekankan pada mahasiswa Tugas Akhir Bimbinganku khususnya dan mahasiswa q pada umumnya saat perkuliahan.
Tulisan ini juga sudah pernah saya kirimkan kepada Pengasuh disalah satu radio swasta di Surabaya yang aspiratif, responsif, akomodatif dan cepat menindak lanjuti untuk disalurkan pada saluran yang tepat (pada tahun 2005 yll)

KEYWORDS : komprehensif, (tidak sepotong-sepotong)integrated dan koordinatif. Mulai membuat aturan-aturan yang jelas, transparan, hukum benar-benar ditegakkan, konsisten, bertanggung jawab.

Ibarat manusia yang sudah dewasa (atau sudah renta?) kota Surabaya ”karakter” nya sudah terbentuk dan memang cukup kompleks untuk mengatur dan menatanya kembali. Kalau karakternya baik, tentunya tidak masalah. Sebaliknya kalau karakternya tidak karu2an menjadi sarat masalah. (Padahal mayoritas manusia yang sudah renta umumnya keras kepala,susah diatur, minta perhatian,minta dilayani dan seringkali kekanak-kanakan).

Kalau diibarkan kue, kota Surabaya ibarat kue tart yang sudah jadi, sudah dihias, bahkan sudah diiris siap untuk dibagikan. Sayangnya kue tart tadi rasanya tidak karuan, kemanisan atau kurang manis, bahkan mungkin ampek (baunya tidak sedap). Bagaimana cara memperbaikinya? Susah bukan?

Dengan diberlakukannya otonomi daerah, maka semestinya daerah semakin leluasa didalam mengatur dan menentukan kebijakan didaerahnya. Bukan malah semakin kacau dan tumpang tindih. Tapi kenyataannya, justru kadang membuka masalah baru.

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu didalam rapat dengan Bappeda Jatim (waktu itu saya berperan sebagai konsultan dan kontraktor yang sedang akan mendapatkan sebuah proyek dari Bappeda). Saya pernah mengusulkan. Usulan saya ini sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan bisa dikatakan cukup klasik. Yakni : Agar Pemkot, atau Pemprov mencoba mulai menata, menyusun, kota dengan komprehensif, (tidak sepotong-sepotong)integrated dan koordinatif. Mulai membuat aturan-aturan yang jelas, transparan, hukum benar-benar ditegakkan, konsisten, bertanggung jawab dan semuanya disosialisasikan sehingga dapat dimengerti oleh semua pihak terkait.

Karena jika ditelaah lebih jauh, segala akar permasalahan didalam suatu pemerintahan adalah pada penataan, aturan dan penegakan hukum yang semu, tumpang tindih, ngambang dan jauh dari konsisten dan bertanggung jawab. Segala sesuatu sifatnya lebih temporal. Menyala sesaat, padam kemudian.

Lebih baik prosesnya yang agak panjang, tetapi ”produk” yang dihasilkan cukup menjawab permasalahan, bukan menciptakan permasalahan baru.

Sayangnya, nampaknya waktu itu hanya satu dua saja yang merespons. Itupun sebatas pembicaraan.Pelaksanaannya? Jauh panggang dari api...........Jauh JUDUL dari ISI

Contoh kongkrit.: karena tidak ada koordinasi yang baik antar instansi, program penataan kota yang terkesan tumpang tindih, tidak dikelola dan direncanakan dengan komprehensif, menyeluruh dan terintegrasi, maka terjadilah :

Minggu pertama, sebuah jalan selesai diperbaiki, mulus, halus bak pipi putri muda cantik Bahkan jalan dilapisi dengan hot mix. Minggu berikutnya, jalan yang halus mulus tadi dicongkeli digali lagi.....ada perbaikan PDAM.... selesai perbaikan, galian ditutup lagi. Tidak dikembalikan seperti sediakala. Brenjol sana, brenjol sini. Jalan tadi ibarat muka yang berbenjol-benjol. Jauh dari mulus. Para pengendara sepeda motor dan mobil, bahkan sepeda onthel, rombong penjual sate atau yang lainnya yang melintas disitu banyak yang selip atau terjatuh . Minggu berikutnya, karena banyak memakan korban, jalan dimuluskan kembali. Hot mix lagi. Minggu berikutnya jalan yang sama digali lagi.....kali ini untuk perbaikan jaringan drainage. Begitu seterusnya........ Jalan tersebut bertahun-tahun tidak pernah ”betul”. Demikian juga dengan jalan-jalan yang lain. Kalau ditanya siapa yang bertanggung jawab? Masing-masing instansi saling lempar tanggung jawab.

Saran saya:

Bagaimana kalau dengan kondisi yang ada sekarang yang sudah ”terlanjur amburadul ” ini, mulai ditata kembali?

Jika sangat sulit karena harus melibatkan banyak pihak, maka untuk jangka pendek bisa dibuat satu proyek percontohan atau pilot project. Coba terapkan sistem koordinasi, penataan secara komprehensif, terintegrasi dengan hukum dan aturan yang konsisten.

Kuncinya sebetulnya yaitu tadi. komprehensif, terintegrasi dengan penegakan hukum dan aturan yang konsisten. Selama hal tersebut tidak dilakukan, selamanya kota ini akan tetap amburadul.

Karena kalau mau bicara impian-impian yang sifatnya membahas masalah FISIK, jauh lebih mudah, dibandingkan dengan menata atau memperbaiki manusianya untuk melakukan atau melaksanakan sistem yang saya sebutkan sebagai KUNCI PERMASALAHAN tersebut. komprehensif, koordinatif, terintegrasi dengan penegakan hukum dan aturan yang konsisten. (Perencanaan tidak sepotong-sepotong)

Karena bisa saja orang mengusulkan (fisik):

1. Coba itu pedagang kaki lima ditertibkan. Kembalikan hak pejalan kaki.

Fungsikan

kembali trotoir untuk pejalan kaki

2. Buat taman kota untuk paru-paru kota biar masyarakatnya sehat

3. Sediakan dong fasilitas transportasi kota yang baik, aman dan nyaman

supaya

bisa mengurangi polusi, dan kendaraan pribadi berkeliaran didalam kota

Bangun dong subway ala MRT di Singapore

4. Bangun dong itu halte-halte yang memadai seperti dinegara-negara maju

(Belanda, atau paling tidak seperti Singapore).

5. Buat itu kawasan sebagai tempat wisata alam. Dan pusat kota sebagai

wisata belanja

6. Galakkan kembali itu pasukan kuning, agar sampah tidak berkeliaran

kemana-mana

7. Buat sistem pembuangan sampah yang memadai

6. Dan masih banyak lagi.

Hal diatas dapat direalisasikan dengan baik dan benar, jika.... kembali lagi kunci tadi sudah dipergunakan......

Sebagai orang yang berlatar belakang dibidang Arsitektur , maka untuk merancang, rasanya bersama team (teman-teman seprofesi dan teman –teman yang terkait) akan lebih ”enteng” mengerjakan perencanaan dan perancangan ,kota, lingkungan, perumahan dan pemukiman, gedung dlsb jika sistem yang saya sebutkan diatas di”berlakukan”.Karena perencanaan dan perancangan betul-betul bisa terfokus, tanpa harus di”pusingkan” oleh hal-hal (administrasi yang simpang siur).

Selama ini perencanaan dan perancangan menjadi tidak maksimal, karena banyak diiricuhkan /diriwuki (Jw) oleh aturan-aturan yang tidak jelas, yang setiap detik berubah. Aturan memang boleh berubah, tetapi tentunya harus melalui tahapan, dan waktu yang jelas. Dan yang terpenting adanya sosialisasi yang intensif.

Surabaya, 2005-11-20

Unik Wardhono

Rabu, 07 Januari 2009

HAK PEJALAN KAKI,ZEBRA CROSS, DAN TL

Lagi-lgi uneg-uneg ini aku tulis tahun 2004 yll....


HAK PEJALAN KAKI, ZEBRA CROSS DAN TRAFFIC LIGHT

Kasihan PEJALAN KAKI………….. Trotoir di KUP (ditempati dengan “paksa” oleh PK5.) Mau lewat zebra cross takut DITOTOL kendaraan bermotor…… Mau lewat jembatan penyeberangan takut DIKUNTIT PENODONG …………..????????

Mayoritas Masyarakat Surabaya , Malas jalan Kaki. Kenapa?

Pada waktu bepergian dengan suami dan anak naik mobil ke Plaza. Seringkali saya minta dicarikan tempat parkir yang PALING DEKAT dengan pintu masuk Plaza. Seringkali juga, suami nampak kesal dan bergumam : “Mayoritas Orang Indonesia sangat malas jalan kaki .Maunya kalau bisa, parkir itu didalam toko, toilet dll jadi nggak usah pakai berjalan.”

“ Langsung seperti/sejenis DRIVE THRUE.”

Saya tersindir. Dan saya mencoba membela diri“ Lho kalau memang kita diberi rejeki bisa parkir ditempat yang paling dekat dengan tujuan kenapa tidak?” “Kalau ada fasilitas yang bisa NGGENDONG/MBOPONG (Jw) (lift, escalator, dlsb) kita ketempat tujuan kenapa tdak? Justru itu sebagai UJUD SYUKUR kita atas karuniaNYA?”

“Lalu ujud syukur bahwa kita telah diberi BADAN SEHAT punya kaki untuk jalan mana?” Jawab suami saya lagi.

Kondisi seperti yang saya lakukan tadi dan mungkin dilakukan pula oleh mayoritas masyarakat Surabaya . Hal tersebut terjadi tidak lain karena di Surabaya disatu sisi banyak terjadi toleransi. Banyak dienakkan, yang seringkali masyarakat menjadi lupa. Mereka ‘REKOSO SETHITHIK” wae terus mengeluhnya panjang banget. Pengaturan, hukum dan sangsi yang jelas belum ditegakkkan/dilaksanakan dengan konsisten, efektif dan efisien. Sementara disisi lain PRIORITAS terhadap fasilitas yang disediakan bahkan kurang pas atau kurang tepat. Belum lagi ditambah dengan perencanaan dan pelaksanaan yang tidak sinkron dan dilakukan sepotomg-sepotong. Tidak ada koordinasi yang benar-benar dilaksanakan dengan komprehensif disemua lini pemerintahan dan kebutuhan masyarakatnya.

Kalau diperhatikan dinegara-negara lain seperti Singapore, Jepang, Belanda dll. Masyarakatnya baik muda sampai yang sudah berumur bahkan pejabatnya tidak jarang kita lihat mau berjalan kaki berkilo-kilo untuk mencapai kendaraan umum. Nampaknya bersemangat dan sehat.

Sewaktu berkesempatan berjalan-jalan dengan suami di Disneyland Jepang, kami bertemu sepasang suami istri yang sebenarnya sudah tua karena cucunya saja sudah usia dua puluhan. Keduanya masih nampak muda,segar dan bersemangat berjalan kaki dengan sigapnya sambil senyum senantiasa terseungging dibibir mereka. Saya berbisik kesuami disebelah saya. “Semoga kelak kitapun demikian ya” Mending jadi “NELI” (Nenek Lincah dalam artian positif daripada nenek klumprak klumpruk karena sakitan kurang Olah Raga).“Makanya harus giat olah raga. Paling tidak jalan kaki rutin” jawab suami saya.

Lalu hubungannya dengan masalah ZEBRA CROSS , JEMBATAN PENYEBERANGAN DLL khususnya di Surabaya apa?

- Mayoritas masyarakat ENGGAN/MALAS berjalan kaki. Baik itu dijalan umum apalagi

menyeberang lewat zebra cross maupun jembatan penyeberangan yang ada.

- Kalau bisa dari rumah ketempat tujuan “diGENDONG” (baik oleh orang, becak, bemo

sepeda motor, mobil, lift, escalator dll).

Lalu timbul pertanyaan . Sebabnya apa? Jawabannya cukup sederhana :

Fasilitas untuk “DIGENDONG/DIBOPONG ” di Surabaya ada, terjangkau, banyak dan bervariasi. Ada becak, bonceng sepeda motor, naik bemo/angguna,bus,ojek naik mobil, lift, escalator dan lain – lain . Kenapa harus jalan kaki?

Toh kalau mau jalan kaki RISKAN. Rasanya takut sekali di TOTOL, DISREMPET, DITODONG , dan yang lebih tragis DILINDAS kendaraaan yang lalu lalang . Mau minggir, PK5 sudah memenuhi TROTOIR yang seharusnya menjadi HAK pejalan kaki.

Sampai2 setiap pembantu saya mau ke pasar jalan kaki, senantiasa saya WANTI2 agar berhati-hati dijalan dan doa saya selalu mengiringi kepergiannya hingga kembali,

Dan setiap setir mobil dijalan raya saya acapkali melihat orang-orang menampakkan kengerian diwajahnya waktu menyeberang jalan meskipun lewat zebra cross. Saya jadi prihatin sekali. Dan sebagai pengemudi kendaraan bermotor sering pula dikejutkan oleh beberapa orang yang menyeberang dengan tiba-tiba.

Lalu timbul pertanyaan lagi.. Kenapa ya kok PEJALAN KAKI di Surabaya khususnya jadi ANALOG dengan ANAK TIRI? Apa salah dan dosanya? Lalu, kenapa kalau dinegara lain justru sebaliknya?. Banyak sekali PEJALAN KAKI nampak enjoy dan santai banget dan bahkan bisa dikatakan sebagai RAJA JALANAN?. Berjalan kaki di trotoir, menyeberang jalan dan lain – lain dengan tenang tanpa menampakkan kekhawatiran?

Difilm-film Negara lain seringkali kalau kita perhatikan bagaimana masyarakat dapat bermain-main dengan keluarganya ditaman-taman kota atau park-park yang dilengkapi dengan air mancur dibeberapa tempat, bangku-bangku dengan diteduhi oleh pepohonan, rumput hijau dan bunga-bungaan. Bahkan pernah waktu berkesempatan jalan-jalan di Perancis, kita bisa dengan leluasa memberi makan burung-burung yang cukup jinak.

Apakah di Indonesia yang sangat luas, dengan tanahnya yang subur, alamnya yang indah tidak bisa dibuat demikian? Seharusnya bisa………

Lalu langkah2 apa yang seharusnya dilakukan? Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sekali lagi diperlukan adanya KOORDINASI dari berbagai pihak terkait , termasuk masyarakatnya didalam penanganan yang KOMPREHENSIF dan INTEGRA TED.

Misalnya :

- Sediakan/Perbaiki infra struktur/fasilitas sarana prasarana transportasi umum yang

memadai.

- Adanya fasilitas untuk pejalan kaki, (zebra cross diberbagai tempat/jalan dengan Dileng

kapi TRAFFIC LIGHT untuk memberikan kesempatan bisa menyeberang bergantian

dengan pemakai kendaraan lain). Trotoir dibebaskan dari Pedagang kaki Lima (PK5) atau

diatur sedemikian rupa sehingga masih ada ruang gerak untuk pejalan kaki. Taman-taman

kota. Dipasang rambu-rambu peringatan, seperti sekian kilometer lagi ada zebra cross dll.

- Adanya bus-bus kota atau angkutan umum sejenis yang bersih, aman, nyaman,

terjangkau (mahal itu relative. Jika lebih mahal sedikit dari angkot lain tapi lebih nyaman

atau bahkan bebas dari copet dan perampokan akan menjadi “murah” demikian pula

sebaliknya).

Mengurangi atau bahkan meniadakan angkot2 dan bus-bus yang sudah tidak layak jalan

- Tersedianya HALTE-HALTE atau tempat pemberhentian bus/angkutan umum kota.

Untuk menghindarkan saling serobot antar angkutan kota / bus yang ada. Dimana disetiap

halte/pemberhentian tersebut diperlengkapi dengan PETA-PETA TUJUAN , JADUAL

KEBERANGKATAN KODE BUS dan KENOP2 yang didisain sedemikian rupa

sehingga tidak mudah dirusak ataupun dicuri. Dll

- Membuat peraturan baru tentang fasilitas transportasi kota.

- Melaksanakan peraturan, menegakkan hukum dan sangsi dengan konsisten

Kebaikannya/kelebihannya:

- Masyarakat akan berpaling dari kendaraan pribadi ketransportasi umum (bus dll).

- Mengurangi volume kendaraan dijalan raya

- Mengurangi polusi atau gas buang kendaraan, udara kota lebih besih

- Mengurangi pencurian kendaraan pribadi.

- Menghemat BBM

- Masyarakat lebih sehat karena harus jalan kaki ketempat halte-halte

- Mengurangi kecelakaan lalin

- dll.

Kesulitan/kekurangannya

- Diperlukan waktu yang lama dan kesabaran aparat dalam rangka mendisiplinkan

(membiasakan untuk berdisiplin) kepada masyarakatnya

- Menyadarkan masyarakat akan pentingnya berjalan kaki bagi kesehatan (karena jarak

antara rumah tinggal ketempat tersedianya transportasi umum tidak semuanya dekat )

- Mengurangi tenaga kerja (sopir angkot lain termasuk becak)

- Untuk membangun sarana prasarana diperlukan biaya yang relative besar.

- Memindahkan atau mengatur PK5

- Pembebasan tanah jika diperlukan

- Ll

Surabaya, Medio Desember 2004

Uniek Wardhono

JELANG PEMILU (3) WANITA OH WANITA

Lagi-lagi tulisan ini juga udah aku tulis 6 tahun yang lalu...

30% KUOTA UNTUK WANITA PADA PEMILU YAD.

Saya setuju, wanita diperhitungkan untuk mengisi kancah kegiatan politik/pemerintahan/maupun kegiatan-kegiatan lain yang strategis.

Tapi sebagai wanita (pribadi), mungkin saya belum sepenuhnya setuju dengan peran wanita yang harus sejajar dengan pria. Sederajad ya, tapi untuk tugas dan kewajiban, saya tetap berpendapat bahwa Tuhan pasti sudah punya rencana dengan menciptakan mahluk2 yang BERBEDA. antara semua saja yang diciptakan termasuk tugas laki-laki dan wanita. Karena kalau tugasnya sama pasti hanya diciptakan satu jenis saja. Laki-laki thok atau wanita thok. Jadi semua saling melengkapi.

Coba sedikit kita analisa beberapa perbedaan itu :

1. Wanita mengalami menstruasi,bisa mengandung, melahirkan dan menyusui. Laki-laki tidak.

2. Bentuk dan fumgsi fisik wanita dan laki-laki jelas berbeda. Baik didalam (wanita punya kandungan,punya uterus )Maupun diluar. Alat kelamin dan lain-lain. Justru dari perbedaan ini jadilah manusia-manusia baru.

3. Emosi wanita dan pria berbeda. Jelas wanita lebih halus dari laki2 (bicara tentang manusia normal) Wanita sering nangis mengeluarkan air mata biasa. Tapi kalau laki-laki berbuat demikian menjadi bencong.

4. Naluri ibu/wanita lebih tajam/peka. Juga pada anaknya. Contoh :

- Pada salah satu peristiwa tewasnya seorang ibu dengan dua anak gadisnya tepat tanggal 23 Des 03 yll

Akibat rumahnya terbakar. Bukan bapaknya yang berusaha menyelamatkan 3 anak2nya (justru menurut berita Koran yang saya baca, bapaknya menyelamatkan diri sendiri dengan terjun dari lantai 2). Ibunya tewas terbakar karena menyelamatkan 2 anak gadisnya yang masih didalam, setelah siibu tadi berhasil menyelamatkan anak bungsunya. Ibu tadi masuk kedalam lagi sementara api sudah berkobar.

- Induk kucing saya, senantiasa menununggui anak2nya makan duluan, setelah anaknya selesai makan, induknya barulah memakan sisanya.

- Yang ada hanya INDUK SEMANG, IBU KOTA, IBU NEGERI, IBU PERTIWI, SEPERTI ANAK AYAM KEHILANGAN INDUKNYA. Surga ada ditelapak kaki ibu. Tidak ada bapak negeri dll.

- Seorang wanita lebih bertahan menjanda, dibanding laki2. (sama2 ditinggal mati pasangannya)

Di agama Kristen Katholik, Tuhan diibaratkan sebagai BAPA. Dan bukan IBU. Ini juga sebagai pelambang bahwa apapun pekerjaan bapak/laki-laki, diharapkan akan dapat dijadikan bapak bagi anak2nya dan pelindung bagi anak dan istrinya.

Di agama Islam, Bapak sebaiknya bisa jadi Imam bagi keluarganya. Dia harus bisa dijadikan pengayom dan suri tauladan bagi anak-istrinya. Untuk itu, memang sebaiknya seorang laki2 hendaknya memperistri wanita yang sederajad, yang sekiranya laki2 tsb nantinya akan dapat / mampu memenuhi kebutuhan material/batiniah istrinya. Sehingga bukan dia yang disetir oleh istrinya, tapi suami bisa memimpin, mengarahkan anak istrinya. Untuk itu Suami memang harus lebih pintar atau minimal sederajad dari istrinya.

Buktinya sekarang ini banyak para keluarga muda yang akhirnya bercerai salah satu penyebabnya menurut saya adalah. Kurang mampunya si suami menjadi panutan bagi istrinya.

Lalu apa hubungannya cerita panjang saya dengan judul diatas? Kenapa harus dibatasi 30%? Kalau memang mau mensederajadkan laki-laki dengaan wanita, sejauh siwanita mampu, mestinya mau 70% pun bahkan 100% pun nggak perlu dipermasalahkan. Nah disini yang mungkin belum jelas dan masih rancu adalah penetapan KRITERIA nya.

KRITERIA harus jelas. Dan sekali lagi bahwa ada laki-laki, dan ada wanita pasti masing-masing punya peran, kelebihan dan kekurangan masing-masing yang sebenarnya bisa saling melengkapi.

Asal semua dilakukan dengan kesadaran bukan keterpaksaan.

Dan yang lebih memicu wanita tidak “TRIMO”/ BANGGA hanya sebagai ibu rumah tangga kemungkinan antara lain adalah : Tidak adanya penghargaan yang memadai dari suami, bahkan anak-anaknya. Anak-anak sekarang justru bangga kalau ibunya berperan diluar rumah (Berkarir). Padahal saya pribadi sangat mengagumi seorang ibu rumah tangga yang berhasil menjadikan anak-anaknya sukses, suaminya sukses dan SETIA hanya memiliki satu istri.. Jadi ibu rumah tangga yang berhasil tadi sangat buerat, tapi sangat MULIA. Dan ibu rumah tangga yang sukses saya ibaratkan sebagai wanita karir yang sukses mengelola perusahaannya, yakni KELUARGA

Kalau PARADIGMA/pandangan tentang peran ibu rumahtangga diluruskan, diubah dan menjadi sangat dihormati, dihargai, mungkin wanita akan kembali kepada fitrahnya. Perbedaan dengan ibu rumah tangga dulu kemungkinan , ibu rumah tangga sekarang lebih terdidik, terpelajar, pintar dan cerdas. Sehingga didalam memanage keluarganya seharusnya menjadi lebih baik.

Tapi ibu saya yang hanya sampai setingkat SMA kok ya sukses memanage keluarga dan bahkan berhasil dalam usaha/karirnya dijamannya ya? Padahal puteranya 5, yang 4 bisa lulus dari PTN semua. Selain ibu saya, rata2 orang dulu kok banyak yang sukses memanage keluarganya ya?

Bahasan ini sebenarnya masih panjang dan dalam. Lain waktu saya sambung lagi. Bahasan ini agak acak2an juga. Nanti kapan-kapan tak sarikan lagi. Harapan saya ada tanggapan/pandangan2 dari ANDA

Surabaya, Pebruari 03

Unik Wardhono

APA TUHAN SEDANG MENG "AYAK"

Meng AYAK yang aku maksudkan disini adalah me NYARING.......

APA TUHAN SEDANG MENG AYAK?

Jika kita perhatikan, beberapa tahun terakhir ini bangsa Indonesia, bertubi-tubi mengalami musibah yang banyak menelan korban jiwa. Dari peristiwa Tsunami, Kecelakaan pesawat, Flue burung, Antraks, Banjir bandang, Gizi buruk, Busung lapar, Deman berdarah, Gempa Bumi, Kemiskinan sampai bahaya-bahaya akibat pemakaian formalin dan lain-lain.

Bahkan diluar bumi Indonesia juga ada pembantaian besar-besaran ISRAEL pada PALESTINa.....

Pertanyaannya. Ada apa ini?Gejala apa pula?Jangan-jangan ini upaya Tuhan meng AYAK manusia. Entah yang buruk yang ditinggal dibumi untuk memberikan kesempatan memperbaikinya. Atau yang ditinggal dibumi justru yang baik-baik. Kita tidak tahu pasti. Itu termasuk MISTERI ILAHI.

Uniek 06

JELANG PEMILU (2)


Lagi-lagi tulisan ini sudah aku buat hampir 4 (empat) tahun yang lalu....

Monggo dicermati....


  1. Menyongsong PILKADA cukup heboh juga ya? Cuma yang saya juga cukup berkesan adalah bahwa ternyata untuk menjadi seorang KADA harus siap PINTAR BERDIPLOMASI..

Coba amati salah satu IKLAN LAYANAN MASYARAKAT yang disiarkan diradio dan televisi kadang ada kata-kata :

”…….. Saya pasti akan memanfaatkan media ini dan media lainnya untuk berkomunikasi dengan masyarakat KALAU WAKTU MEMUNGKINKAN”

Tentunya jika waktu tidak memungkinkan (karena super sibuk ) notabene ya tidak bisa berkomunikasi dengan masyarakat……….????

  1. Beberapa waktu lalu BANTUAN TSUNAMI ACEH DAN SUMUT mayoritas datangnya dari Negara Negara maju. Antusiaisme masyarakat dari penjuru dunia tersebut banyak dipertanyakan :

“Kenapa ya kok kalau lagi kesusahan seperti ini, banyak manusia yang menjadi baik dan

mau menolong? Sedang waktu-waktu normal seolah-olah bermusuhan atau ingin

menang-menangan?”

Pepatah lama mengatakan TEMAN SEJATI ADALAH YANG MENOLONG KITA

SAAT KITA SEDANG KESUSAHAN. (tentunya tanpa pamrih atau maksud-maksud untuk keuntungan diri sendiri kelompok atau golongan).

Jika mengacu pada pepatah tadi berarti, orang-orang yang menolong tanpa pamrih tersebut adalah justru TEMAN SEJATI?

Karena ada Kata Bijak Lainnya yang berarti sebaliknya dari pepatah terdahulu :

JANGANLAH KAMU MENYAPA TERLEBIH DULU PADA TEMANMU YANG SEDANG BERJAYA SEBELUM DIA MENYAPAMU TERLEBIH DAHULU. Artinya, umumnya seseorang yang lagi berjaya, dia sering sombong dan lupa pada bahkan kadang sobatnya sendiri. Untuk mengantisipasi agar kita tidak SAKIT HATI maka kata bijak tadi sangatlah tepat kita terapkan.

Berlaku nggak ya pada KADA yang kita pilih nanti? Karena umumnya saat kampanye calon KADA atau calon Legeslatif , akan SEKUAT TENAGA merangkul masyarakat untuk memilihnya. Tapi disaat mereka TERPILIH, mereka BUKANnya merasa AMANAH tetapi lebih merasa BERJAYA......

Nah saat merasa BERJAYA inilah mereka menjadi SUSAH DISAPA atau DIJANGKAU.......

Memang tidak semua........

Berikut tulisan saya yang tidak terasa sudah 4 (empat) tahun yang lalu.......

Beberapa sudah terlihat adanya sedikit "RESPONS" (kalau boleh GE ER), tapi belum menyeluruh.....

PILKADAL JANGAN NGADALI MASYARAKAT

Istilah yang secara tidak langsung mengandung kata KADAL mungkin memang sudah suratan.. Bisa jadi istilah tadi tepat juga sebagai peringatan bagi semua pihak yang terlibat didalam kepengurusan Pilkadal dan calon KADA nya sendiri agar tidak berusaha atau melakukan tindakan NGADALI masyarakat..

Didalam istilah Jawa Ngadali berarti ngapusi, mencederai atau mengingkari janji-janji yang sudah diucapkannya. Umumnya janji-janji yang disampaikan tersebut sifatnya hal-hal yang muluk-muluk atau kalau istilah Jawanya disebut NGGEDABRUS.. Kasihan masyarakat sekarang. Khususnya kaum miskin papa. Mereka sudah lama menderita. Penderitaan ini kalau dirunut tidak lain juga hasil, akibat, efek, atau produk dari DIKADALI.

Urutannya adalah : Pemerintah atau Oknum Pejabat Tinggi dirayu, dibutakan matanya dengan iming-iming “hadiah” material yang tidak “ternilai” harganya kembali lagi dari yang menamakan dirinya oknum Konglomerat. Oknum Konglomerat dengan dalih punya “USAHA” besar butuh modal, Modal akhirnya dapat dikeluarkan Pemerintah karena dipameri agunan yang “WAH” yang sebenanrnya juga NGADALI tadi (karena agunan yang dipamerkan sebenarnya fiktif semata) Selain itu, juga dijanjikan pembagian keuntungan antara oknum pejabat tinggi dengan oknum konglomerat dengan prosentase yang dirahasiakan (mereka saja yang tahu). Ibarat suami istri yang sedang berada dikamar yang tertutup. Hanya mereka sendiri yang tahu. Apa sedang bertengkar, bercinta, diam-diaman dan lain sebagainya

Lalu kejadian, modal dilarikan oleh oknum konglomerat dengan nilai trilyunan ke luar negeri. Oknum Pejabat yang sudah kadung dapat bagian blingsatan. Bingung nggak bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya. Akhirnya mengarang scenario dengan berbagai dalih agar terbebas dari hukuman gantung. Personil Hukum yang bisa dimintai tolong membebaskan tuduhan di ajak kompromi untuk NGADALI semua pihak terkait,.

Dan akhirnya masyarakat pula yang menerima dampak Kadal Mengkadal ini. Sehingga negara ini, menjadi negara yang sangat miskin. Perekonomian sangat jauh dari merata. Banyak yang dapat mengenyam hidup kaya, pendidikan tinggi dan mewah, tetapi jauh LEBIH BANYAK pula yang hidup dalam kemiskinan.

Untuk itulah dalam lingkup perkotaan ini, janganlah praktek kadal mengkadal ini disuburkan. Buatlah janji-janji yang sesuai dengan kondisi yang ada. Tidak perlu muluk-muluk asal dapat diujudkan dan dirasakan nyata oleh rakyat atau masyarakatnya. Marilah masyarakat diajak ikut serta terlibat dalam menentukan nasib kota/kabupaten ini. Didiklah, agar bisa menghadapi realita yang ada. Jika memang miskin, ajaklah untuk berhemat, bersama-sama bekerja keras ikut meningkatkan perekonomian. Meningkatkan SDM nya. Jika memang kaya, ajaklah “berpesta” dan tetap menjaga kekayaan tersebut.. Jangan diKADALI dengan hal-hal yang JAUH DARI KENYATAAN . Sejauh itu dilakukan dengan adil, bergandengan tangan, bahu membahu (tidak terjadi kesenjangan social yang lebar), pasti rakyat akan dengan LEGOWO mau menerimanya.

Buatlah rencana dan aturan yang jelas yang masuk akal. Baik rencana jangka pendek maupun rencana jangka panjang. Koordinasi yang baik dengan semua pihak terkait, terintegrasi dengan baik antar satu bidang dengan bidang yang lainnya. Buatlah iklim yang sehat, sinergi yang baik antara pemerintah, masyarakat dan semua pihak terkait.

Jaga dan susun pula istilah-istilah , kata-kata. ucapan-ucapan atau janji-janji dari calon KADA yang digembar-gemborkan yang menurut penulis seringkali terdengar dan terasa “KONYOL”. Misalnya “Kalau saya terpilih jadi KADA nanti, kaum miskin akan saya bebaskan dari biaya pendidikan” Seharusnya dijelaskan lebih bijak. Kriteria miskin itu yang mana, yang dimaksud biaya pendidikan itu yang mana. Karena masyarakat sekarang banyak yang merasa diKADALI dengan janji-janji tersebut. Bebas biaya pendidikan ternyata hanya bebas dari SPP. Uang buku, uang saku, uang transportasi, uang bayar ekstrakurikuler, uang seragam, termasuk sepatu dan lain sebagainya (yang kalau ditotal akan jauh lebih besar dari SPP) masih harus dibayar sendiri. Ibarat jauh JUDUL dari ISI nya..

Saya menjadi ingat akan satu ceritera dari suami saya yang waktu itu kunjungan kerja ke Taiwan. Melihat Taiwan yang sekarang ini sudah maju dan nampak makmur. Suami saya bertanya pada salah satu pejabat Tinggi pemerintahan disitu. :Wah tentunya dengan kondisi negara anda yang makmur begini anda menerima gaji yang sangat tinggi ya?” Jawab Petinggi Taiwan tadi : “Tidak salah. Benar sekali.” “Tapi perlu dicatat. Saya menerima gaji tinggi pada saat negara saya perekonomiannya sudah bagus. Waktu perekonomian ini masih memprihatinkan, gaji sayapun juga menyesuaikan.”

Alangkah indahnya jika hal tersebut juga diterapkan di negeri ini, dikota/didaerah di Indonesia negeri tercinta ini. Bukan justru seperti oknum legislative yang hampir setiap hari menghiasi Koran-koran dan media lain untuk meminta kenaikan gaji yang tidak tanggung-tanggung besarnya, yang sangat tidak proporsional dengan kondisi kota/daerahnya

Surabaya, 04 April 2005

Uniek Wardhono

JELANG PEMILU

Uneg2 ini sebenarnya sudah aku tulis 5 (lima) tahun yang lalu... Waktu itu hanya aku berikan kepada orang-orang tertentu saja, dan pada beberpa personil disalah satu radio swasta yang aku anggap aspiratif, responnya cepat, dan mau menyalurkan GELEGAK UNEG-UNEG saya pada saluran yang PAS


Inilah uneg2 ku yang sekarang aku bagi pada para sahabat semua...


Luis Sullivan arsitek besar dari Chicago USA pernah mengatakan :

SETIAP SOAL ATAU PERMASALAHAN SUDAH MENGANDUNG DALAM DIRINYA SENDIRI PENYELESAIAN SOALNYA.

Setiap soal/permasalahan minta jawaban atau solusinya . Dan jawaban atau solusinya sebenarnya sudah tersedia (meski masih terselubung ) didalam soal/permasalahan itu sendiri.

Kesulitan kita biasanya adalah bahwa kita cenderung untuk lebih suka mendengarkan keinginan dan nafsu kita sendiri. Selubung itulah yang paling sulit kita kuak, kita buka dan kita “petani” untuk mendapatkan jawaban/solusinya.

Contoh yang pernah diberikan oleh alm Romo Dipl Ing YB Mangunwijaya. “empu”nya arsitektur Indonesia adalah :

Kita lebih senang menjiplak produk orang lain, tanpa bertanya dulu situasi kondisi yang ada. Lalu kita mulai mendikte harus begini harus begitu.. Terlalu malas bertanya pada alam sekeliling, kepada bahan yang ada potensi atau kemampuan yang mungkin. Misalnya kehidupan iklim panas lembab diberi jas setelan wool dengan dasi yang mencekik.

Bangunan yang serba rapat. Yang lebih mengandalkan Ac. Padahal masih dimungkinkan untuk memanfaakan factor alam, tapi karena kecenderungan menjiplak yang besar itulah yang seringkali mengalahkan segalanya.

Contoh yang sedang kita hadapi saat ini yang cukup menggelikan juga:

Prilaku dari para Partai dengan Program-programnya, khususnya kegiatan kampanye.

Kenapa baru sekarang mereka mencari tahu keinginan-keinginan masyarakat? (Seperti yang diungkapkan oleh seorang pengasuh salah satu program di radio swasta di Surabaya Kelana Kota pagi Senin 15 Maret 2004 bahwa ada partai yang bertanya tentang apa yang akan dilakukan dalam kampanye sekarang. )

Kan aneh. Wong radio tersebut sudah bertahun-tahun, berbulan-bulan, berhari-hari, berjam-jam bermenit-menit berdetik-detik senantiasa menyajikan bisikan, omelan, keluhan, teriakan dari masyarakat yang mayoritas cukup kritis. Belum lagi media lain. Seperti Koran, televisi daerah, maupun nasional. Kuping mereka, mata mereka para kontestan/caleg selama ini dikemanakan? Bagaimana mereka akan dapat menyerap aspirasi rakyat dan mencarikan solusinya? Wong masalahnya sendiri ndak tahu. Bagaimana nantinya mereka akan dapat mewakili bahkan memimpin negeri ini? Jangan menyepelekan masalah kecil. Masalah yang besar, mulainya juga dari masalah kecil.

Dan dengar-dengar lagi. Para rakyat kecil (tukang becak) dieksploitasi? Dijadikan komoditi? (sekali lagi istilah tepatnya kurang tahu). Mereka para rakyat kecil dijadikan kendaraan (bukan becaknya saja), tapi dimanfaatkan dengan memberikan iming2 (meski sifatnya sesaat), dan bukannya mendidik mereka untuk mulai bisa mengungkapkan hati nuraninya. Mereka mau kampanye bukan karena memang terpanggil karena hati nuraninya, tapi seolah-olah direnggut hati nuraninya, melalui kelemahan mereka, yakni “perut”

Padahal banyak sekali yang bisa kita jawab kalau kita tahu permasalahan yang ada.

Sebagai misal :

Sebelum kampanye buat planning yang tentunya konsepnya harus disesuaikan dengan perkembangan situasi dan kondisi masyarakat yang ada.

Sebaiknya biaya-biaya kampanye lebih diarahkan bukan untuk “foya2” sesaat, tapi untuk melakukan hal-hal yang lebih bermanfat.

Bukan Cuma untuk ’NAMPANG’ dengan POSTER FOTO2 BESAR dijalanan. Yang tidak tahu JUNTRUNGANnya dan apa mangsud dan tujuannya......Kok kayak IKLAN SABUN dan KECAP aja.... Mereka malah BERSAING dengan IKLAN PROVIDER2 GSM, BESAR2AN FOTO tapi TIDAK JELAS PROGRAM yang SUDAH, SEDANG dan akan dilakukan.........

Disamping buang-buang uang yang tidak bermanfaat, juga BIKIN SEPET MATA, MERUSAK LINGKUNGAN

Anehnya IDE2 yang TIDAK KREATIF ini kenapa justru BANYAK FOLLOWER alias pengikutnya ya? Contohnya PEMASANGAN BENDERA PARTAI dipohon-pohon tinggi dan besar. Selain MERUSAK PEMANDANGAN, bendera-bendera yang terbuat dari kain itu karena terkena panas dan hujan yang terus menerus akhirnya sobek dan lapuk, dan jadi sampah diatas pohon...........

Kenapa tidak membuat PROGRAM-PROGRAM yang JELAS ya...Seperti membuat poling, atau survey bisa tertulis, bisa wawancara atau membuat questionair untuk disebar luaskan ke masyarakat untuk menjaring PERMASALAHAN apa yang sedang dihadapi masyarakat. Dari lingkup kecil, hingga besar..

Toh alat komunikasi dan teknologi semakin canggih. Jadi masalah yang ada semakin dapat kita ketahui.

Nah dari hasil survey inilah (sekali lagi jauh-jauh hari sebelum kampanye) carilah solusinya untuk penyelesaiannya.

Kita berbuat, bisa melalui apa saja. Melalui masukan , baik itu tulisan, ucapan, dan langsung terjun dilapangan. Juga melalui konsep-konsep atau ide-ide.

Semoga tulisan ini akan memberikan manfaat.

Kalau sekarang dianggap terlambat, semoga apa yang saya ungkapkan melalui tulisan ini dapat dipergunakan waktu yad, atau dipergunakan untuk tahap-tahap selanjutnya.

Unik wardhono